SHARE

migas

Satunegeri.com – Diterbitkannya Permendag (Peraturan Menteri Perdagangan) Nomor 03 / M-DAG/PER/I/2015 pada 5 Januari 2015, yang merevisi Permendag Nomor 42 Tahun 2009, disambut baik oleh pengamat kebijakan, Yusri Usman.

Dalam keterangan tertulisnya, Permendag no.3 tahun 2015 tersebut menjadi teguran keras bagi Kementerian ESDM dan stakeholders minyak dan gas (migas). Ia juga meminta jajaran Kementerian ESDM tidak lagi meloloskan rekomendasi migas dan kondensat untuk diekspor degnan mudah tanpa memikirkan kepentingan nasional.

Minyak mentah bagian negara di SKK Migas, yaitu dari Duri dan Belanak crude serta Arun, Senipah, Geragai dan Bontang Return Condensat, khususnya kondensat produk-produk di hilir sangat dibutuhkan industri dalam negeri.

Namun ironisnya, kalangan industri di Singapore membeli gas seharga US$ 4 per MMBTU, yang sumber gas nya berasal dari Indonesia. Padahal pihak industri dalam negeri membeli dikisaran harga US$ 8 sd 9 per MMBTU dari pasokan langsung sumur gas.

kalau pasokannya dari FSRU (Floating storage Regasification Unit) harga yang dipatok sebesar USD 13 sd 17 per MMBTU. “Kalau begitu, bagaimana industri kita bisa bersaing di tingkat global padahal kita sudah menyatakan siap masuk ke  Masyarakat Ekonomi Asean. Bisa gulung tikar akibat tidak mampu bersaing karena tata kelola migas yang salah urus,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Humas SKK Migas Rudianto Rimbono menyatakan akan mengurangi kontrak ekspor migas. “Seiring dengan tumbuhnya industri dalam negeri, kebutuhan gas terus meningkat. Karena itu, kita terus meningkatkan suplai untuk domestik sementara kontrak ekspor akan kita kurangi,” kata Rudianto.

Menurut Rudianto, saat ini Indonesia masih terikat kontrak penjualan gas dengan sejumlah negara seperti Singapura, Korea, dan Jepang, dengan jangka waktu bervariasi, hingga 2020 dan 2030.  SKK Migas menargetkan ekspor gas pada 2015 hanya sebesar 2.838 BBTUD, turun dari jumlah ekspor saat ini sebesar 3.227 BBTUD.

Apa Komentar Kamu?