SHARE

Oleh : M.Hatta Taliwang
(Tulisan ini merupakan CATATAN KRITIS DI ERA SBY dan dimuat dlm buku REPUBLIK DIUJUNG TANDUK)

Banyak kalangan risau, gelisah,kesal atas kondisi bangsa. Perilaku elit pemimpin di eksekutif, legislatif dan yudikatif memuakkan. Terjadi krisis kepercayaan yang luas antara lain karena korupsi rezim ini diketahui oleh masyarakat sampai lapis terbawah. Banyak yang geram bahkan berpikir bagaimana mengakhiri rezim korup ini sekarang juga. Karena mereka yakin lewat Pemilu pun tidak akan ada harapan. Istilah teman teman aktifis, Pemilu cuma akan merubah monyet jadi kera.Maka berkumandanglah suara suara ingin menggelorakan revolusi. Karena syarat syarat obyektif sebuah perubahan dianggap sudah lebih dari cukup. Tinggal syarat subyektifnya.

Tetapi apakah semudah itu? Situasi era 2000an ini sejak teknologi komunikasi dan informasi makin canggih telah banyak merubah prilaku dan sikap masyarakat atas berbagai isu.Tidak mudah lagi menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi untuk sebuah gerakan perubahan, seperti yang dilakukan di era kejatuhan Soekarno, Soeharto hingga Gus Dur. Mengapa ? Hemat kami ada beberapa faktor

PERTAMA, SULIT FOKUS. Info yang mengalir deras menyerbu ruang publik melalui alat-alat komunikasi (TV,Radio,BB,Facebook, HP dll) membuat para organisator perubahan sulit mengkonsolidasi kekuatan. Sebagian besar asyik dengan “mainannya” sendiri. Apa yang dianggap penting oleh tokoh gerakan perubahan belum tentu penting dimata mayoritas masyarakat.Belum tuntas membahas sebuah issu tahu tahu sudah muncul issu baru.

KEDUA, Masyarakat Jenuh,Lelah dengan Kegaduhan.
Karena bertubi tubi isu menyerbu ruang publik, banyak wacana sepi solusi, maka banyak orang jadi apatis. Mereka lelah dengan kegaduhan, keributan sehingga banyak yang jadi kebal alias immun nurani dan batinnya atas fakta fakta yang terjadi. Seburuk apapun fakta itu paling paling sejenak mereka mengelus dada setelah itu mereka lupakan. Tak terpikir cara untuk menghadapi atau melawan keburukan-keburukan di masyarakat. Memang terjadi perlawanan sporadis tp tidak mengubah keadaan secara substansi.Pada umumnya masyarakat makin permissif, nafsi nafsi, individualis dan mencari jalan masing masing.

KETIGA, Setiap Orang Merasa Tokoh.
Teknologi informasi komunikasi modern membuat setiap orang merasa menjadi cepat cerdas. Tidak lagi tergantung pada seorang figur yang dulu didewakan karena ilmu pengetahuannya. Sekarang orang bisa belajar sendiri, mencari info sendiri. Terjadi otonomi dalam dirinya. Sehingga tidak mudah untuk patuh begitu saja pada mereka yang disebut guru, tokoh, pemimpin dll. Meskipun sebenarnya kemampuan pengetahuan, skill dan attitudenya masih terbatas namun yang bersangkutan merasa setara dengan tokoh tokoh. Karena itu tidak mudah menjadi “pengikut” sebuah gerakan.

KEEMPAT, Kaburnya nilai dan ideologi yang diperjuangkan. Dalam masyarakat yang makin liberal dan kapitalistik ini hampir semua nilai, norma dan ideologi diperdebatkan.Sehingga hampir semua menjadi relatif. Bangsa seolah berjalan tanpa tuntunan keyakinan dan ideologi. Bangsa berjalan menurut tafsir masing masing. Bahkan dalam kasus Pancasila sebagai ideologi saja terjadi pelecehan. Nilai-nilai nasionalisme dipandang kuno dan harus dicampakkan dan diganti dengan faham internasionalisme,neoliberalisme, globalisme dll.

KELIMA , Tak ada tawaran solusi yang disepakati.
Dalam menghadapi situasi yang penuh kebobrokan itu bukannya tak ada tawaran solusi. Secara umum ada yang meminta perbaikan SISTEM. Ada yg ingin kembali ke UUD45 Asli, ada yang mau amandemen,ada yg mau via Pemerintahan Transisi, bahkan ada yang mengusulkan revolusi atau kudeta. dll. Tapi bagaimana caranya? Tak satu kelompokpun yang bisa menjabarkan apalagi untuk implementasi. Salah satunya karena tak ada kepemimpinan/tokoh yang diterima semua pihak.Pemimpin yg muncul dipandang publik “bermasalah” semua.Tidak menimbulkan trust yang luas.

KEENAM , Media Massa Utama tidak pro kepentingan rakyat.
Mencari media massa utama(TV, Koran) yang sungguh sungguh membela kepentngan rakyat tidaklah mudah ditengah penguasaan para kapitalis atas media

Apa Komentar Kamu?