SHARE

89apbn-130617b

Satunegeri.com – Target APBN-Perubahan 2014 untuk penerimaan bea keluar diturunkan dari sebelumnya Rp16 triliun menjadi sekitar Rp13 triliun. Hal tersebut terjadi karena melemahnya harga andalan komoditas ekspor kedua Indonesia, yakni minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Menurut Direktur Penerimaan, Peraturan Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea dan Cukai Susiwijono Moegiarso,  permintaan CPO dunia memang masih belum bagus. Apalagi menurutnya tarif bea keluar CPO pada Oktober mendatang sebesar 0%.

Sebelumnya Kementerian Perdagangan memastikan bea keluar untuk CPO pada periode Oktober 2014 akan dinolkan, dengan alasan menjaga daya saing produk CPO Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional.

Hingga saat ini, produk CPO RI dinilai kalah bersaing dibanding Malaysia akibat faktor perbedaan besaran bea keluar. Di negara dengan ibu kota Kuala Lumpur itu, bea keluar CPO dapat ditekan dari 8% ke 4% ketika harga CPO menyentuh ambang batas 2.250 ringgit.

Bahkan, pemerintah Malaysia tidak ragu menghapus bea keluar ketika harga CPO terpeleset di bawah ambang batas psikologis tersebut. Dengan demikian, harga CPO asal Malaysia menjadi lebih murah dibanding Indonesia.

Susiwijono mengungkapkan ekspor CPO dan turunan CPO merupakan penyumbang terbesar penerimaan bea keluar. Hingga akhir Agustus 2014, ekspor CPO telah menyumbang sekitar 93% dari realisasi penerimaan bea keluar sebesar Rp9 triliun.

Data realisasi penerimaan bea keluar hingga Agustus 2014 menyebutkan tiga Kanwil penghasil bea keluar CPO terbesar a.l. Kanwil Riau dan Sumatera Barat menyumbang Rp3,92 triliun, Kanwil Sumatera Utara sebesar Rp1,2 triliun dan Kanwil Sumatera Selatan sebesar Rp1,69 triliun.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

two × 2 =