SHARE

 

Satunegeri.com – Sehabis nonton TV yang menampilkan Syahrini dan Hotman Paris dengan Lambhorgini seharga 5 milyar, saya keluar rumah dengan mobil tua. Merasa nikmat dengan mobil tua saya. Karena pikiran saya tenang tanpa beban.
Ketika di jalan dekat pemakaman Karet Bivak, saya lihat ada sepasang tunanetra berjalan, saya terkesima. Yang pria memikul krupuk dagangan, yang perempuan menuntun yang pria dengan memegang tongkat khas tunanetra.
Saya berhenti memarkir mobil lalu menyetop mereka. “Mau kemana ” sapa saya dengan ramah ditrotoar jalan Penjernihan. “Mau jualan ke Tanah Abang” jawab mereka tersipu. Lalu saya memotret mereka dengan kamera HP.
Dari dialog singkat saya mendapat info yang pria bernama Nasir berusia 30 tahun asal Wonogiri dan yang wanita Dewi berusia 33 tahun asli Betawi. Mereka tinggal di dekat rel KA Pejompongan belakang Polsek Tanah Abang. Sepasang suami isteri yg telah dikaruniai 2 anak.
Setelah membeli beberapa bungkus kerupuknya, saya melanjutkan perjalanan. Mereka berdua bagai sepasang merpati melangkah sedikit tertatih menuju targetnya jualan di Tanah Abang.
Saya terharu melihat kegigihan sepasang tunanetra tersebut, siang jualan kerupuk, malam tetap sebagai pemijat panggilan demi hidup rumah tangga dan dua anaknya. Padahal tidak jauh dari tempat mereka jualan banyak pria/wanita muda, masih gagah/cantik mengemis dengan sekedar membawa gitar gitaran. Bahkan yang gagah dan cantik di negeri ini banyak yang cari duit dengan jual narkoba atau korupsi.
penglihatan batinnya TERANG, bahwa memberi makan ke anak itu harus dari cucuran keringat dan penuh pengorbanan.Tidak dengan mengemis, tidak dengan menipu atau korupsi. Kita yang sempurna indranya ini, mestinya lebih TERANG dalam melihat, tidak cuma terkesima melihat Lambhorgini milik Syahrini, tapi juga terbelalak melihat ksenjangan sosial yang makin memprihatinkan.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY