SHARE

Satunegeri.com – Dalam keterangannya, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri membantah klaim Petral yang mengatakan bahwa pengadaan minyak semakin banyak melalui national oil companies (NOCs). Sehingga memunculkan kesan rantai pengadaan minyak semakin pendek.

Padahal faktanya adalah NOCs yang memenangi tender pengadaan tidak selalu memasok minyaknya sendiri, bahkan kerap memperoleh minyak dari pihak lain.

Karena itu tim reformasi Migas menyimpulkan tidak banyak perubahan dalam praktik pengadaan minyak, mata rantai pengadaan tidak mengalami perbaikan berarti.

Faisal mengatakan tidak semua NOC merupakan produsen minyak atau memiliki ladang minyak. Berdasarkan informasi yang diperoleh Tim Reformasi Tata Kelola Migas, salah satu NOC, Maldives NOC LTD, beberapa kali digunakan sebagai kedok untuk memenuhi ketentuan pengadaan minyak oleh Petral.

Temuan lain, kata Faisal NOC asal Thailand yakni PTT digunakan sebagai alat dalam pengadaan minyak mentah Azeri dari Azerbaijan. Hal ini memunculkan pertanyaan mengapa Pertral tidak melakukan kontrak secara langsung dengan Socar Trading Singapore PTE LTD yang merupakan NOC asal Azerbaijan. “Semakin dipertanyakan karena dalam pengadaan minyak mentah Azeri PTT Kerap menang,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Tim Reformasi Migas Chandra Hamzah menambahkan pihaknya tidak berwenang menghitung kerugian negara dari praktik Petral. “Kerugian negara itu diluar kewenangan. Itu wewenang KPK,” kata Chandra yang merupakan mantan Pimpinan KPK.

Apa Komentar Kamu?