SHARE

gandarusa

satunegeri.com – Melalui penelitiannya tentang tanaman gandarusa sebagai obat kontrasepsi pria, tim peneliti Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mendapat penghargaan tingkat dunia, Y Prize Travel Award dari The Y Prize Foundation. Penghargaan tersebut diserahkan pada 3 Maret 2014 di Durham, North Carolina, Amerika Serikat.

Penelitian tersebut sudah dilakukan sejak 1987 dan telah menghabiskan dana riset sekitar Rp 6,5 miliar. Untuk Tim peneliti diketuai oleh Prof. Dr. Bambang Prajogo Eko W., MS, Apt serta dua anggota: Dr. Maria Paulina Dyah Pramesti dan Dr. Sri Mustaina.

penelitian gandarusa, menurut Bambang Prajogo merupakan riset etnomedisin dari Papua, dimana masyarakat setempat menggunakannya untuk menurunkan kesuburan.

Riset kontrasepsi pria menggunakan gandarusa itu didorong oleh informasi mengenai adat istiadat unik yang berkembang di masyarakat Papua soal aturan menikah. Bila mempelai pria menikah, tapi belum bisa bayar mahar,  si pria wajib minum rebusan tanaman gandarusa. Tujuannya untuk menghindari mempelai wanita hamil sebelum si pria membayar mahar.

Kontrasepsi gandarusa berbeda dengan kontrasepi pria lainnya, seperti kondom dan operasi atau biasa disebut vasektomi. “Belum ada yang oral kontrasepsi. Kontrapsi gandarusa ini sifatnya oral,” ujarnya.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

14 − 12 =