SHARE

medium_23ikannelayan

Satunegeri.com – Terbitnya Peraturan Menteri(Permen) Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 57 tahun 2014 pada Desember 2014, yang melarang bongkar muat di tengah laut(transhipment), telah merugikan pelaku usaha perikanan. Karena itu mereka akan mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melakukan rapat dengar pendapat pada Rabu (21/1) besok.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo) Wajan Sudja mengatakan bahwa kebijakan Menteri Susi, telah merugikan mereka. Pasalnya para pembudidaya ikan tidak dapat lagi melakukan ekspor. Sementara ekspor dengan pengiriman via udara berbiaya terlalu tinggi.

Bila peraturan itu tidak dicabut, Wajan mengklaim ikan kerapu tidak dapat dipasarkan sehingga lebih dari 100.000 produsen lokal terancam kebangkrutan. Padahal setiap tahunnya pembudidaya kerapu mengekspor sebanyak 4.6000 ton dengan nilai US$ 45 juta.

Wajan juga mengkhawatirkan Kondisi tersebut akan mengkibatkan¬† para pembeli ikan kerapu akan beralih ke negara lain seperti Filipina, Malaysia dan Vietnam.¬† “Padahal, Indonesia adalah pemasok bibit-bibit ikan kerapu ke negara-negara ini,” tambahnya seperti dikutip Kontan.

Selain Asosiasi Ikan Kerapu, para produsen lobster juga akan ikut bersama mengadukan nasipnya ke DPR. Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan Nusa Tengara Barat (NTB) Aminullah mengatakan Permen No.1 tahun 2015 tentang larangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan juga berpotensi mematikan mata pencaharian para nelayan di wilayah NTB. Sebab bibit lobster para nelayan NTB sebanyak 4,9 juta pada periode Januari-Oktober 2014 telah siap diekspor ke Vitenam.

Ia memperkirakan bibit lobster yang telah diekspor pada akhir tahun 2014 mencapai lebih dari 5 juta ekor. Nah bila kebijakan menteri susi ini tetap lanjut maka potensi kerugian yang dialami nelayan NTB sangat besar dan melahirkan pengangguran baru di wilayah NTB. Sementara itu sejumlah nelayan di tanah air juga melakukan demonstrasi menolak peraturan menteri KKP yang dinilai mendiskriminasikan nelayan lokal.

Apa Komentar Kamu?