SHARE

Pemerintah Indonesia dan Asosiasi Batu Bara Dunia (World Coal Association, WCA) pada Selasa(6/9) menyelenggarakan lokakarya untuk menyusun sebuah roadmap bagi Indonesia, agar dapat terus menjalankan pembangunan dengan tenaga batu bara sembari tetap menjaga komitmen internasionalnya terhadap lingkungan. Roadmap tersebut disusun oleh para pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Indonesia, perwakilan WCA serta sejumlah pakar internasional di Jakarta hari ini.

“Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar keempat di dunia. Dengan roadmap ini, Indonesia dapat mengaplikasikan teknologi batu bara berefisiensi tinggi rendah emisi (High Efficiency Low Emissions, HELE). Teknologi tersebut memungkinkan Indonesia untuk terus menggunakan sumber daya batu baranya yang berlimpah dalam memenuhi permintaan energi yang terus meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sembari tetap memenuhi target pengurangan emisinya dalam Perjanjian Paris,” ujar Chief Executive WCA Benjamin Sporton.

Perjanjian Paris merupakan kesepakatan yang dirumuskan di dalam ranah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) untuk mengatur seputar mitigasi, adaptasi serta pembiayaan emisi gas rumah kaca mulai tahun 2020. Berdasarkan perjanjian tersebut, Indonesia memiliki komitmen tanpa syarat melalui Intended Nationally Determined Contributions (INDCs)-nya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030. Target ini diperluas menjadi 41% dengan dukungan internasional. Di sisi lain, dengan ketiadaan akses listrik yang masih dirasakan 39 juta orang di Indonesia dan konsumsi listrik per kapita yang baru sekitar seperempat dari Cina, Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 160% dari tahun 2013-2022 seiring berkembangnya ekonomi.

Sejalan dengan itu, Indonesia dan sejumlah negara lain telah mengidentifikasi peran teknologi HELE sebagai bagian dari INDC mereka. Diakui Badan Energi Internasional (International Energy Agency, IEA) sebagai salah satu sarana kunci mitigasi iklim, teknologi batu bara HELE penting untuk mengurangi CO2 dan emisi lainnya yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batu bara.

“Teknologi batu bara HELE dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 35% dibandingkan dengan teknologi sebelumnya yang kurang efisien. Ini berarti negara dapat merasakan keuntungan dari listrik bertenaga batu bara yang terjangkau, dapat diandalkan dan mudah diakses untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mereka sembari mengurangi emisi secara signifikan sesuai dengan komitmen iklim mereka,” kata Sporton.

“Indonesia membutuhkan kerangka aplikasi teknologi batu bara beremisi rendah untuk memastikan adanya integrasi antara kebijakan iklim, energi dan ekonomi. Itulah sebabnya pada tahun 2014, WCA mendirikan Platform to Accelerate Coal Efficiency (PACE) untuk mendukung negara-negara yang memilih untuk menggunakan batu bara agar dapat menerapkan teknologi batu bara yang paling efisien. Dalam lokakarya hari ini yang juga menjadi bagian dari inisiatif tersebut, sejumlah ahli internasional termasuk perwakilan sektor swasta dan publik dari Indonesia, merumuskan strategi bagi Indonesia untuk mempercepat adopsi teknologi HELE dalam memenuhi target pertumbuhan ekonomi dan mitigasi iklim,” tutup Sporton.

Apa Komentar Kamu?