Aku Rakyat Kecil, Ini Suara Hatiku..!!

Sederet Ungkapan Hati Tak Terucap, Suara Kecil Bukan Politisi dan Bukan Aktivis

Tok..! Tok..! Tok..!
Bunyi palu sidang di gedung DPR diketokkan Azis Syamsudin sang pimpinan sidang setelah mengucapkan kalimat RUU Ciptaker sah dan disetujui oleh sidang paripurna. Keriuhan pun tiba-tiba terjadi dimana-mana. Ramai dengan teriakan berbagai pihak yang dimotori oleh politisi dan orang yang menunjuk dirinya sebagai aktivis dan pimpinan buruh.

Ada apa dengan RUU Ciptaker? Kejahatan apa yang dibungkus disana? Adakah niat busuk yang dikemas didalam UU itu? Apakah pemerintah akan sejahat itu mengemas kejahatan, membungkus kebusukan dan meramu kekejaman dalam sebuah UU untuk menyengsarakan rakyatnya? UU Untuk membuat rakyatnya menderita? Apakah memang seperti itu sehingga harus ditolak, dilawan, dicaci, dengan berbagai cara oleh para politisi dan aktivis? Ahhh kata bathinku, tak mungkin ada pemerintah dibelahan bumi ini yang bekerja untuk menyiksa rakyatnya dan membuat rakyatnya menderita. Firaun saja tak begitu, dia tetap membangun negerinya dan sejahterakan rakyatnya, apalagi ini, era dimana kemanusian semakin tinggi, tak mungkinlah pemerintah berniat akan melakukan kekejaman kepada kami rakyat ini, ujar suara hatiku.

Pikirku pun melambung, menghayal melihat kemegahan para politisi dan aktivis itu. Kulihat kendaraan mereka, kulihat rumah mereka dan kulihat sepatu mengkilat serta baju mahal yang mereka gunakan. Ya Tuhan.., andaikan baju jutaan itu, sepatu puluhan juta itu, jam tangan perhiasan ratusan juta dan mobil ribuan juta itu dijadikan bantuan kepada kami rakyat dan buruh di pabrik, betapa kami akan merasa mereka memang membela kami dan tidak sedang memainkan drama politik dan sinetron aktivis untuk memperkaya diri.

Kurebahkan tubuh di tikar lapuk yang biasa kugunakan alas tidur, mataku menatap keatas kelangit-langit rumahku yang bocor kalau hujan turun. Aku ini rakyat kecil, yang sesungguhnya tak butuh drama politik dan sinetron aktivis. Aku tak perduli tentang isi undang-undang apa saja, karena aku yakin tak ada pemerintah yang akan menyiksa rakyatnya. Aku ingin listrik murah, aku mau sekolah anak-anakku gratis, aku berharap tiap bulan dibantu bahan pokok makanan dan bantuan uang untuk beli lauk pauk. Terserah mereka para pemerintah mau bikin Undang-Undang, karena tak mungkin isinya memenggal leher kami sebagai rakyat.

Lamunanku jadi terlalu jauh, andai aku bisa bersuara mengungkapkan isi hatiku seperti para politisi dan aktivis itu, maka aku akan bilang kepada buruh begini, ”Kawan.., kita ingin sejahtera, ingin semua murah dan gratis demi masa depan kita dan anak-anak kita. Tapi bagaimana itu akan bisa terwujud jika kita larang dan batasi pemerintah untuk berbuat sesuatu menuju itu hanya karena kalian diprovokasi politisi dan aktvis?” Ahhh sudahlah suaraku mungkin tak sampai kepada kalian, tapi aku tetap tak perduli isi undang-undang itu apa, yang penting listrik murah, anakku sekolah gratis, tiap bulan dikasih sembako, tiap bulan pula dapan bantuan tunai untuk lauk pauk, maka kerjaku sebagai rakyat bisa kusimpan untuk anak-anakku kelak.

Sudah siang, aku harus bekerja, suara hatiku biarlah kutuliskan, barangkali ada yang baca dan menyadari suara hati rakyat kecil ini.

Anoman Obong

share on: