Covid-19: The Real Invisible War

Oleh : Ahmad Fadhli
Mahasiswa Doktor Ekonomi Sumberdaya IPB University

Satunegeri.com – Saya teringat sebuah judul film dokumenter yang pernah dilaunching pada tahun 2012, judulnya “The Invisible War”. Film ini berkisah tentang penyingkapan praktek pemerkosaan (sexual harrasment) yang telah bertahun-tahun terjadi (dan berusaha ditutupi) di dalam kemiliteran Amerika Serikat. Namun saya tidak akan membahas mengenai isi film tersebut, karena saya lebih tertarik kepada “judulnya” saja yang sangat linear dengan kondisi kita saat ini.

Oknum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di beberapa daerah, masih ada yang mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan sholat tarawih di masjid pada saat Ramadhan. Seolah-olah sang oknum tersebut pura-pura tidak tahu atau mungkin berfatwa tanpa landasan keilmuan. Padahal secara ilmiah para akademisi telah merekomendasikan agar masyarakat harus berdiam diri di rumah demi menghindari dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

Di tengah pandemi seperti sekarang ini, para ulama dan akademisi memiliki peran yang sangat penting untuk saling memperkuat dalil-dalil mengenai agama. Ulama dan akademisi tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Apalagi sampai terjebak pada pemikiran-pemikiran “kolonialisme” yang masih memisahkan antara ilmu dan agama.

Hampir 4,5 abad yang lalu (pasca penjajahan Belanda), mestinya sindrom penyakit Belanda (Dutch Disease) sudah hilang di Indonesia. Namun hingga detik ini pewarisan tersebut masih terus diturunkan. Penjajah Belanda punya tabiat ingin masyarakat Indonesia tetap bodoh.

Salah satunya yaitu membuat masyarakat Indonesia ilmunya tidak utuh (incomplete). Orang yang ahli agama (ulama) didesain agar tidak paham ilmu matematika dan sains (ilmu pengetahuan umum). Begitu juga sebaliknya, mereka yang ahli ilmu pengetahuan umum (akademisi) diracuni otaknya agar anti terhadap dalil-dalil agama. Padahal menurut ajaran Islam tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Ini warisan penjajah.

Penggabungan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum menjadi “complete science”, membuat negara Iran mandiri dan punya banyak ilmuan yang notabene adalah Hafidzul Quran. Iran menjadi salah satu negara yang kemajuan dalam bidang militer, pendidikan, sosial dan budaya cukup pesat. Terlepas dari sistem imam, di Iran para ayatulallah (ulama), tidak hanya pintar agama tapi juga dapat diajak bicara militer, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Karena sistem ilmu mereka sudah terintegrasi (syamil dan mutakamil).

Ingat, sholat tarawih itu sunnah sedangkan sholat jumat itu wajib. Namun dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, kita harus ikhlas mengosongkan masjid-masjid kita. Bahkan Bani Al-Saud (yang memerintah Kerajaan Arab Saudi) yang notabene adalah penjaga 2 kota suci Mekkah dan Madinah, melarang setiap umat Islam dari negara manapun untuk berziarah (umroh) dan beribadah (sholat) ke Masjid Al-Haram dan Masjid An-Nabawi. Ini juga adalah fakta, bahwa King Al-Saud tidak pernah memisahkan antara Ilmu dan Agama.

Semua ibadah-ibadah wajib kita kerjakan dengan berjamaah di rumah masing-masing, tidak perlu takut kehilangan pahala. Selama nafas masih di kerongkongan dan Allah masih memiliki sifat Rahman dan Rahim Nya, maka selama itu pula kita tidak akan kehilangan kesempatan (opportunity loss) untuk memasuki Syurga Nya. Belum terlambat untuk menyadari, bahwa kondisi pandemi Covid-19 ini lebih berbahaya dari “Word War I dan II”. Ini adalah “The Real Invisible War”. Jangan sampai kita semua menyesal, karena tanpa sadar telah “membunuh” orang-orang yang kita cintai. Mari selamatkan ibadah Ramadhan kita dari “The Real Invisible War”. Marhaban Ya Syahrul Ilmi.


share on: