Dunia yang Fana, Akhirat yang Kekal

Oleh: Hamzah Afifi

SATUNEGERI.COM – Kehidupan dunia ini tidaklah kekal, kehidupan dunia ini hanyalah sementara saja. Apakah kita sudah mempersiapkan dengan sebaik-baiknya atau justru malah tidak mempersiapkan sama sekali.

Seperti yang digambarkan Rasulullah SAW dalam haditsnya: “Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu pergi meninggalkannya”. (HR At-Tirmidzi No. 2377).

Begitulah gambaran kehidupan dunia ini. Apabila kita meninggalkan teduhan di bawah pohon tersebut untuk melanjutkan perjalanan kita, itulah saat kematian kita. Kematian bukan berarti penutup dari segala sesuatu.

Kematian bukanlah nilai dari akhir babak kehidupan ini. Tetapi kematian adalah saat perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Dari alam dunia yang sementara ini, ke alam akhirat yang kekal abadi. “Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS Al-Hajj: 47).

Berdasarkan ayat di atas, satu hari di akhirat = 1000 tahun di dunia. 1000 tahun dunia = 1 hari akhirat. 1000 tahun dunia = 24 jam akhirat dan 1 tahun dunia = 24/1000 = 0,024 jam akhirat. Jika rata-rata umur manusia 63 tahun, maka menurut waktu akhirat adalah 63 × 0,024 = 1,5 jam akhirat. Padahal akhirat itu selamanya.

Allah SWT memberi kita umur di dunia ini rata-rata hanya 1,5 jam waktu akhirat. Sungguh, waktu yang sangat singkat dan harus kita pergunakan dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Lalu, apa yang sudah kita persiapkan untuk alam akhirat tersebut? Adakah persiapan kita dengan amal bakti, atau persiapan kita dengan dosa dan maksiat? Pikirkanlah sebelum mati datang menjemput kita semua. Pikirkanlah sebelum malaikat maut datang mencabut nyawa kita.

Kematian datang secara tiba-tiba. Ia tidak mengenal umur, bangsa dan warna. Apakah ia cantik ataupun ganteng, kaya ataupun miskin. Lagi merasakan kenikmatan ataupun kekurangan. Ia tidak mengenal seseorang itu sehat atau sakit.

Berapa banyak dari manusia yang tampaknya sehat dan segar badannya, tiba-tiba ajal datang menjemput tanpa sepatah kata. Mereka terperdaya dengan anggapan bahwa mereka akan hidup lebih lama lagi di dunia ini karena mereka sehat sejahtera.

Tetapi siapakah yang dapat menjamin hal itu? Begitu pula yang muda remaja. Mereka menyangka mereka akan hidup lebih lama lagi karena mereka masih muda, masih punya waktu panjang.

Tetapi siapakah yang dapat menjaminkan demikian? Umur kita tidak ada yang mengetahui kecuali Allah SWT. Lalu, apa yang sudah kita persiapkan untuk rumah terakhir kita nanti, kebaikan atau keburukan. Wallahua’lam.

 

share on: