Fakta Seputar Ladang Banyu Urip

image-satunegeriCepu merupakan daerah ladang minyak tertua di Indonesia, bahkan di dunia. Sejak 1887 banyak ladang minyak yang ditemukan, hingga jumlahnya mencapai 30 ladang minyak. Ladang minyak terbesar Kawengan yang ditemukan 1926 dan mulai berproduksi 1929. Hingga kini Kawengan menghasilkan lebih dari 120 juta barel, beserta ladang minyak Ledok, Nglobo Semanggi dan banyak lagi. Sejarah penemuan ladang-ladang minyak di Cepu mencerminkan suatu perkembangan konsep geologi, <em>exploration plays</em>, dan <em>exploration technology</em> dalam rentang waktu lebih dari seabad. Sebelum Perang Dunia II, Cepu terkenal sebagai konsesi BPM/Shell.

Eksplorasi di ladang minyak Cepu dilakukan berdasarkan pemetaan geologi permukaan dan keberadaan rembesan minyak. Digunakan juga sumuran dan pengeboran dangkal. Tidak ada data yang menunjukkan penggunaan metode seismik pada waktu itu, kendati pernah dilakukan percobaan menggunakan metode gravitasi "<em>torsion balance</em>". Eksplorasi ditujukan pada formasi-2 berumur Miocene dan lebih muda, terutama Fm Ngrayong dan Fm Wonocolo. Formasi-formasi yang lebih dalam seperti Fm Kujung dan Fm Ngimbang belum diketahui, karena pengeboran dalam sampai batuan dasar belum pernah dilakukan. Sementara log tali kawat sudah mulai digunakan, begitu pula penggunaan biostratigrafi (<em>micro-fossils</em>).

Berdasarkan kampanye pengeboran dangkal ini, pada 1931 BPM menemukan ladang gas Tobo-Balun, tepat berada di atas area yang sekarang dikenal dengan Ladang Minyak/Gas Cendana dan Banyu Urip. Salah satu sumurnya Tobo-XXV (Tobo-35) mencapai 2.000 m, tetapi luput mengenai Fm Kujung.

Pada 1948-1958, ladang Cepu diambil kembali oleh Shell/BPM (PT Shell Indonesia). Tidak ada data yang menunjukkan perusahaan ini melakukan kegiatan survei seismik. Namun dalam rangka pengembangan ladang Gas Tobo Balun, Shell masih sempat melakukan pengeboran yang agak dalam (Tobo-8) dan sempat menembus Fm Ngrayong dan Tawun, dan menemukan 50 liter minyak dan 25,6m3 gas, namun luput sampai ke Fm Kujung. Mungkin sekali pada waktu itu belum ada konsep keberadaan terumbu Fm Kujung sebagai perangkap minyak dan gas bumi. Namun waktu itu mereka sudah menyadari keberadaan ladang-ladang minyak Cepu sebagai bagian dari suatu cekungan sedimenter Cekungan Jawa Utara Timur Laut (NE Java basin) yang lebih luas lagi.

Akhirnya pada 1958-1965 Blok Cepu diambil alih oleh PN Permigan (Perusahaan Minyak dan Gas Nasional), yang kemudian dilikuidasi.

Kemudian antara 1965-1980 Cepu diambil alih oleh Lemigas, dan daerah tersebut digunakan sebagai tempat pendidikan dan pelatihan (diklat) para ahli perminyakan mengingat banyak ladang minyak tua yang masih dioperasikan sebagai sarana pendidikan. Kegiatan eksplorasi bukan tujuan dari diklat ini, namun sempat dilakukan pengeboran untuk gas (1968-1972) di atas lapangan yang sekarang dikenal sebagai Cendana dan Banyu Urip (13 sumur : PM-1 — PM-5, To-01 – To-08), juga survei seismik sekitar awal 70-an (seri lintasan 73.DNR, Seri 74.PWD). Akan tetapi pada waktu itu kemajuan teknologi seismik belum memadai untuk mendeteksi keberadaan Terumbu Kujung. Bahkan bisa jadi konsep terumbu sebagai perangkap minyak dan gas bumi pun belum terpikirkan.

Di luar daerah wilayah kerja pertambangan (WKP) Cepu, Pertamina melakukan eksplorasi dengan menggunakan seismik dan telah mengebor beberapa prospek, antara lain Kujung-1 (yang pertama kali menembus batuan dasar) dan Ngimbang-1 (suatu struktur besar yang menembus Formasi Kujung dan Formasi Ngimbang). Keduanya memang tidak menghasilkan minyak atau gas bumi, namun menghasilkan data geologi yang penting. Di lepas pantai hampir seluruh Laut Jawa sebelah timur itu merupakan daerah Kontrak Production Sharing (KPS) Cities Service Oil Co.

Secara keseluruhan kegiatan eksplorasi ini tidak menggembirakan, namun berhasil ditemukan Ladang Minyak Poleng dalam Terumbu Fm Kujung, sekaligus membuktikan terumbu dapat menjadi perangkap minyak di cekungan Jawa Timur Laut (NE Java basin).

Antara tahun 1980-1990 daerah Cepu diambil alih oleh Pertamina Unit III. Pertama kali dilakukan seismik sekitar pertengahan dan akhir 80-an (seri lintasan 87.CPU dan 89.CPU), yang menemukan beberapa prospek. Satu prospek dibor tapi gagal, sedangkan satu prospek lainnya (Tapen) tidak sempat dibor. Maklum, seismik pada waktu itu belum mampu mendeteksi terumbu yang berada pada kedalaman lebih dari 2.000 m, karena teknologi seismik belum memadai.</div>
<div><br />Lantas daerah di luar WKP Cepu dijadikan JOB, yaitu dengan PT Stanvac Indonesia di sebelah barat (Gundih Block) dan dengan Petromer Trend (Tuban Block), yang kemudian sering berpindah tangan dan kini dioperasikan oleh JOB Pertamina-Petrochina. Hasil yang penting dari aktivitas JOB ini adalah ditemukannya Ladang Minyak Mudi (1993-94) yang ternyata merupakan perangkap terumbu dalam Fm Kujung.

Pada tahun 1990 WKP Cepu diambil oleh Humpuss Patragas (HPG) sebagai proyek Technical Assistance Contract (TAC), kecuali beberapa lapangan tua seperti Kawengan, Ledok dan Nglobo yang tetap dioperasikan Pertamina.

Pada awalnya yang diincar oleh HPG adalah "<em>enhanced recovery</em> " dari lapangan-lapangan tua tersebut, karena itu jenis kontraknya TAC. Perjanjian ini diawali studi Technical Evaluation Agreement (TEA) selama 6 bulan guna mengevaluasi kemungkinan ditingkatkannya produksi serta peluang untuk eksplorasi. Penulis (Koesoemadinata — penyunting) bertindak sebagai ketua tim. Berdasarkan hasil studi yang disyaratkan Pertamina ini, selama hampir setahun HPG melakukan negosiasi dengan Pertamina.

Antara tahun 1990-1996 HPG melakukan eksplorasi, antara lain survei seismik 2-D selama tiga tahun berturut-turut dengan total panjang lintasan 1.250 km dan melakukan "<em>advanced seismic processing</em>". Selama eksplorasi ini ditemukan beberapa "prospek dangkal" (kurang dari 2.000 m) seperti Nglobo Utara dan "prospek dalam" antara lain Banyu Urip dan Cendana, serta masih banyak lagi (10 prospek, lihat Gb-1) yang potensi cadangannya layak dibor. Bahkan lokasi pengeborannya pun sudah bisa ditentukan.

Pengeboran pertama yang dilakukan HPG adalah Nglobo Utara #1, kemudian ada 4 pengeboran konfirmasi, dan dinyatakan sebagai penemuan baru yang akan segera dikembangkan. Sayangnya ladang ini (belakangan dinamai Lapangan Kemuning) didera sejumlah masalah pengeboran dan reservoir sehingga tidak sempat berproduksi.

Pada 1995, mengingat HPG telah merogoh biaya yang melampaui "<em>commitment</em>"-nya., maka diputuskan untuk membiayai pengeboran eksplorasi prospek dalam, akan dilakukan <em>farm-out</em> saham HPG pada perusahaan multinasional (dengan menawarkan 49% interest). Dengan iming-iming prospek yang begitu menggiurkan, lebih dari 100 perusahaan internasional menyatakan minatnya. Akan tetapi yang lolos seleksi hanya 6 perusahaan, dan mereka berkesempatan melihat data eksplorasi secara langsung. Waktu itu semua perusahaan begitu bernafsu menguasai interest HPG setelah melihat sendiri reef prospect yang tampak jelas pada penampang seismik

Pada 1996 tender dimenangkan Ampolex (Australia), karena bersedia memenuhi persyaratan HPG tetap bertindak sebagai operator, walaupun mereka diperkenankan menempatkan technical personel-nya (antara lain. Vice President Eksploration).

Dalam rangka kerjasama ini, Ampolex mendesak segera melakukan pengeboran eksplorasi sumur Tapen #1 yang merupakan prospek Pertamina di tahun 1989 (operasi praktis diambil alih Ampolex) yang hanya menghasilkan <em>non-commercial gas</em>. Sementara itu, di tingkat manajemen terjadi perubahan dengan diakuisisinya Ampolex oleh Mobil Oil. HPG sendiri lebih berkonsentrasi pada pengembangan Nglobo Utara (juga disebut Lapangan Kemuning), karena perjanjian dengan Ampolex tidak menyangkut Nglobo Utara.

Tahun 1998 dilakukan pengeboran eksplorasi berikutnya. Titik yang diusulkan HPG adalah Banyu Urip #1, yang memang merupakan prospek urutan pertama HPG dengan obyektifnya Kujung Reef. Lokasi pengeboran pun telah ditetapkan HPG. Jadi, sebetulnya proses penelitian sampai penentuan titik lokasi pengeboran seratus persen dilakukan HPG dengan sumber daya manusia Indonesia sendiri. Mobil Oil hanya menelaah ulang hasil jerih payah penelitian ini, dan akhirnya menyetujui untuk melakukan pengeboran. Bahkan kedalaman akhir pengeboran juga menggunakan skenario yang dirancang HPG, yaitu pada alas Fm Kujung (lihat gb-3).

Pengeboran kemudian dilaksanakan Agustus 1998 dalam suasana reformasi. Namun pada waktu pengeboran, operasi praktis diambil alih Mobil, walaupun operator masih tetap HPG (Exploration Manager tetap dari HPG). Suatu kejutan terjadi karena pada lapisan pasir di atas Fm Kujung itu terdapat tanda-tanda minyak dan segera dilakukan pengintian (coring) yang ternyata penuh berlumuran dengan minyak. Dari hasil test RFT, logging dan yang disebut "<em>looking ahead</em>', menunjukkan secara positif dengan tingkat keyakinan 99% akan adanya cadangan besar dalam terumbu di bawah titik tersebut.

Hanya saja, berdasarkan standar yang berlaku dalam industri minyak bumi, suatu penemuan ladang minyak baru bisa dinyatakan sebagai discoverĀ jika selain sudah dibor juga sudah dilakukan uji produksi yang menentukan "flow rate"-nya. Saat itulah, secara mengejutkan pihak Mobil menghentikan pengeboran tepat beberapa saat sebelum mata bor memasuki terumbu Fm Kujung. Alasannya, menurut mereka, adalah adanya tanda-tanda gas H2S yang beracun sehingga perlu dilakukan persiapan peralatan untuk menanggulangi kemungkinan pencemaran lingkungan.

Pengeboran selanjutnya dialihkan ke prospek Cendana, yang juga dihentikan di atas terumbu. Pengeboran baru dilanjutkan hampir tiga tahun kemudian pada 2001 di lokasi yang sama, dengan Mobil Oil sebagai operator yang telah mengantongi 100% <em>interest</em> dalam TAC Cepu. Mobil Oil kemudian juga melakukan uji produksi (5.000 BOPD?) dan menyatakan Banyu Urip sebagai suatu "discovery"yang dalam pers disebut sebagai giant oil fieldĀ.

Dengan logika paling sederhana pun terasa wajar jika orang yang mencurigai Mobil Oil sengaja mengulur-ulur waktu dilakukannya pengeboran lebih lanjut dan uji produksi, hingga proses pengalihan 51% interest HPG selesai seutuhnya. Penundaan ini memakan waktu sampai lebih dari 2 tahun, sehingga menggantung (suspend). Hal ini konon memakan biaya lebih dari 100 juta dollar AS untuk stand-by fee, yang selanjutnya ditagih EM kepada pemerintah melalui cost recovery.

Tragisnya, justru dengan praktik akal-akalan yang kasat mata dan merugikan negara inilah EM kemudian menyatakan diri sebagai penemu tunggal Ladang Minyak Banyu Urip.

share on:

Leave a Response