GKR Hemas, Aktifis Sosial Yang Berjuang Di parlemen

image-satunegeriSatuNegeri.com – Sejak kecil, sebagai anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara, Gusti Kanjeng Ratu Hemas sudah dididik mengenai kedisiplinan dan kemandirian oleh ayahnya yang  tentara. Bakat organisasi  sudah diperolehnya sejak remaja, dan terus berlanjut ketika dia menjadi isteri calon raja Kraton Yogya. Sebagai isteri Pangeran Mangkubumi, dia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Aktivitas sosial ini terus berlanjut dan semakin bertambah banyak ketika suaminya, Sri Sultan Hamengku Buwono X, diangkat menjadi Raja serta menjadi Kepala Daerah Setingkat Provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam kegiatan sosial itu, GKR Hemas menemukan kenyataan tentang berbagai problem masyarakatnya; kemiskinan, anak-anak kurang gizi, orang-orang yang tidak bisa bekerja karena cacat, anak perempuan yang harus putus sekolah karena hamil di luar nikah, para manula dan sebagainya. Di tengah ketekunan beraktifitas dalam pemberdayaan masyarakatnya itu, GKR Hemas kian merasakan bahwa ranah politik merupakan jalur yang sangat strategis untuk lebih menyejahterakan masyarakat yang terpinggirkan tersebut. Karena kebijakan politik, baik legislatif maupun eksekutif, akan lebih efektif dalam mendorong pengambilan keputusan yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat..  

Dalam pandangan GKR Hemas, negara ini kaya akan sumberdaya alam, tetapi mengapa masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Secara jujur, dia terobsesi terjun ke dunia politik untuk membantu mereka agar dapat hidup lebih layak lagi. Dan, motivasinya ini didukung banyak orang, baik teman, sahabat maupun relasi lainnya, di samping yang terpenting dukungan keluarga tentunya. “Suami saya tidak hanya memberi restu tetapi banyak memberi nasehat, karena beliau sudah lama berkecimpung di dunia politik. Nasehatnya antara lain, politik itu memang kekuasaan, tetapi ambillah kekuasaan secara etis dan selalu dialamatkan untuk kemaslahatan rakyat banyak. Hal ini bisa dilakukan kalau kita bisa selalu mendengar hati nurani diri kita sendiri. Wejangan ini yang selalu membekas pada diri saya untuk terjun ke dunia politik,” tutur GKR Hemas.

Dukungan keluarga bagi GKR Hemas memang sangat penting. Suami dan kelima anaknya (GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GRAj Nurabra Juwita, dan GRAj Nur Astuti Wijareni), menantu serta cucu-cucu mendukung kiprahnya di jalur politik. Tanpa restu orang-orang yang dikasihinya itu, GKR Hemas merasa hambar dalam  segala pencapaiannya di berbagai kegiatannya itu. Maka, dengan restu keluarga itu pula, GKR Hemas semakin termotivasi dalam melakoni tugasnya sebagai Anggota DPD. Segala konsekuensi yang diperolehnya selama berkiprah di ranah politik dirasakannya sangat ringan. Bahkan, yang sangat mengharukannya, keluarganya itu ikhlas kalau prioritas waktu maupun perhatian kepada mereka harus “diambil” oleh aktivitas politiknya. Tapi, di tengah kesibukannya, GKR Hemas tetap berupaya secara optimal  dan berkualitas untuk berkomunikasi dan bercengkerama dengan keluarga. Di kala kepenatan dan tekanan dari kegiatan sosial  menderanya, dan atau setelah berkecimpung dalam tugasnya di tengah kering-kerontang gurun politik, GKR Hemas menemukan kebahagiaannya dalam oase ketenangan dan kedamaian di tengah keluarganya.

Wakil Ketua DPD RI Periode 2009-2014

Selain sebagai penggiat kebudayaan dan aktivis perempuan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas (GKR Hemas) adalah tokoh politik. Karir politiknya saat ini adalah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2009-2014, yang bersama wakil ketua lainnya, Laode Ida, mendampingi Ketua DPD RI, Irman Gusman.

GKR Hemas  kembali terpilih sebagai Anggota DPD RI periode 2009-2014 sebagai wakil Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti periode 2004, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, dalam pemilihan legislatif tahun 2009 juga berhasil meraih perolehan tertinggi untuk prosentase berbanding jumlah pemilih bagi anggota DPD di seluruh Indonesia. Perempuan kelahiran 31 Oktober 1952, yang meraih lebih 50 % suara di daerahnya ini, memiliki tekad yang lebih menggebu lagi dalam kiprah politiknya di DPD RI periode kedua ini,  demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat dan daerah. Bahkan, demi turut mendorong penguatan kewenangan DPD, serta demi membangun sistem ketatanegaraan di negeri ini yang lebih baik lagi, GKR Hemas memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan pimpinan DPD RI, awal Oktober 2009, yang akhirnya membawanya ke posisi Wakil Ketua DPD RI Periode 2009-2014.

Salah satu tujuan GKR Hemas berkiprah di ranah politik dengan menjadi Anggota DPD RI sejak 2004 adalah berharap  sangat besar  pada lembaga ”senator” ini dapat menjadi penyeimbang DPR, sehingga aspirasi dan kesejahteraan khususnya masyarakat marginal, seperti perempuan dan anak-anak yang selalu diabaikan, dapat dikanalisasi secara konkret dalam kebijakan undang-undang.

Selama berkiprah sebagai Anggota DPD RI periode 2004-2009, GKR Hemas turut aktif merumuskan berbagai produk legislasi, antara lain dia masuk ke dalam kegiatan berbagai Panitia Ad Hoc (PAH), dan Alat Kelengkapan, sebagai berikut :

  • Tahun 2004 – 2005 menjadi Panitia Ad Hoc IV (PAH IV) dan terpilih sebagai  Wakil Ketua. Sedangkan di alat kelengkapan, masuk di PKALP (Panitia Kerja Sama Antar Lembaga dan Parlemen).

  • Tahun 2005 – 2006  tetap di PAH IV dan PKALP.

  • Sedangkan untuk Masa Sidang 2006 – 2007, masih  terlibat dalam PAH  IV, Panitia Musyawarah (Panmus) dan Kelompok DPD di MPR RI. Di Kelompok DPD  GKR Hemas dipercaya sebagai Wakil Ketua.

  • Masa Sidang 2007 – 2008, GKR Hemas pindah ke PAH I, tetap di Panmus dan Kelompok DPD. Di Kelompok DPD  tetap dipercayakan sebagai Wakil Ketua.

  • Masa Sidang 2008 – 2009 (tahun terakhir), tetap di PAH I dan Kelompok, serta di PKALP. Di Kelompok DPD, GKRH kembali diberi amanah sebagai Wakil Ketua.

  • Kegiatan lain yang juga pernah dilakukan GKR Hemas selama menjadi anggota DPD RI adalah melaksanakan :
  1. Kunjungan ke luar negeri, Australia dan Swiss untuk melakukan studi banding mengenai pelaksanaan sistem bikameral.
  2. Menjadi pembicara di seminar-seminar, wawancara dengan berbagai media, termasuk talk show di sejumlah media elektronik, dalam rangka menyosialisasikan DPD RI kepada masyarakat, khususnya untuk penguatan DPD RI yang salah satu ultimate goal-nya adalah dilakukannya amandemen UUD 1945.
  3. Menyelenggarakan dan menghadiri berbagai kegiatan yang     berkaitan dengan pengarusutamaan gender, Perempuan Parlemen     (politik), kebudayaan, LSM dan sebagainya.


Sedangkan selama menjadi Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas mengkoordinasi bidang II, yang terdiri dari Komite II, Komite IV, Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT), Panitia akuntabilitas Publik (PAP) dan Badan Kehormatan (BK). Selain melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, GKR Hemas juga sempat memimpin delegasi DPD RI dalam Pertemuan ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Hanoi, Vietnam (29 Nov-3 Des 2009), mengenai ”Role of Woman Parliamentarians in Law-making Process””, dan  Pertemuan The Exchange Program for Woman Members Parliamentary di Dhaka, Bangladesh (18-21 Januari 2010).

Aktivitas GKR Hemas di lembaga legislatif sesungguhnya merupakan kelanjutan dan perluasan dari perjuangan yang telah dilakukannya dalam bidang sosial membantu mereka yang terpinggirkan, demi terwujud kesejahteraan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial.

Kaukus Perempuan Parlemen DPD RI dan Upaya Membangun Jejaring

GKR Hemas turut mendirikan dan hingga kini menjadi Ketua Kaukus Perempuan Parlemen DPD RI (Kaukus PP DPD RI). Yang diupayakan selama periode kepengurusan GKR Hemas adalah, Kaukus PP DPD RI turut memperjuangkan terbentuknya Jaringan Perempuan Parlemen Indonesia yang merupakan idaman setiap aktivis politik dan perempuan di negeri ini sebagai salah satu wahana yang efektif bagi penguatan keterwakilan perempuan di salah satu lembaga penting pengambil keputusan, yaitu institusi parlemen. Di lembaga parlemenlah, baik di tingkat pusat (DPR/DPD) maupun di tingkat provinsi/Kabupaten/Kota (DPRD), keputusan penting yang diambil diharapkan mempengaruhi perbaikan nasib perempuan, setidaknya terbangunnya kesetaraan gender dan keadilan sosial.  

Para aktivis politik dan perempuan itu, di bidang politik, secara khusus mengarahkan konsentrasinya kepada penguatan keterwakilan perempuan di parlemen. Berbagai kegiatan dilakukan, dari pelatihan perempuan dan politik, konsultasi publik, advokasi, sampai lokakarya. Di tingkat pusat, dua organisasi perempuan parlemen yang terus berkiprah adalah Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI), dan Kaukus Perempuan Parlemen Dewan Perwakilan Daerah (Kaukus PP DPD).  Kedua organisasi ini juga berupaya untuk membangun sebuah jaringan perempuan parlemen di tingkat  nasional.

Sedangkan Kaukus PP DPD RI bekerja sama dengan UNDP PRIDE juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang secara khusus mengarah pada upaya pembentukan Jaringan Perempuan Parlemen Se Indonesia tersebut.

Peran Di Luar Panggung DPD

Berbagai aktivitas permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini yang telah dan terus dilakukannya di luar kegiatan rutinnya sebagai Anggota DPD RI dapat diketahui dari sejumlah jabatan organisasi sosial kemasyarakatan yang disandangnya. Bahkan aktivitasnya pada beberapa organisasi sosial sudah ditekuninya salama berpuluh-puluh tahun.

Sejumlah jabatan tersebut yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah sebagai Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Penasehat Dharma Wanita Persatuan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA), Penasehat Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS), Ketua Yayasan Kanker Indonesia Wilayah, Ketua Persatuan Wanita Olah Raga Seluruh Indonesia (PERWOSI), Ketua Umum Lembaga Penelitian dan Pengembangan Penyandang Cacat Dria Manunggal, Pelindung Yayasan Penyantun Anak Asma (YAPNAS), Penasehat Yayasan Jantung Indonesia Cabang Utama, Badan Penyantun Yayasan Lembaga Gerakan Orang Tua Asuh, Pembina Yayasan Wredho Mulyo, Dewan Kehormatan Kaukus Perempuan Politik Wilayah, Ketua Tim Pembangunan Berwawasan Jender, dan Pembina Utama Badan Koordinasi Paguyuban Lansia.

Sedangkan jabatannya untuk tingkat nasional adalah sebagai  Badan Penyantun Yayasan Sayap Ibu, Penasehat Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Penasehat Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Pusat,  Ketua Yayasan Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP), dan Ketua Kaukus Perempuan  Parlemen DPD RI

Tentu semua kiprah GKR Hemas dalam menekuni jabatan yang diamanatkan kepadanya akan menjadi panjang daftarnya jika dinarasikan. Berikut ini akan diungkap sekilas saja untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukannya dalam memberdayakan masyarakat di luar perannya sebagai seorang ”senator”.  

Sebagai wujud perhatian dan upaya terhadap perberdayaan Lansia di DIY yang termasuk sebagai provinsi yang memiliki jumlah lansia terbanyak, GKR Hemas senantiasa mendukung berkembangnya wadah atau forum lansia untuk menunjang para lansia agar dapat memperoleh kesejahteraan.  Dia kerap berada dan beraktivitas di tengah-tengah para lansia yang pada umumnya masih produktif baik sebagai petani, penjual makanan di pasar atau menjadi buruh pada industri rumah maupun sentra industri. Bentuk kepeduliannya pada manula, melalui Badan Kordinasi Paguyuban Lansia,  juga dibuktikan dengan dia menciptakan senam khusus untuk lansia. Senam kreasi GKR Hemas ini, yang bertajuk  Senam Bugar Lansia, dari seri A sampai J, cukup popular di kalangan lansia di DIY.

Sementara itu, kiprah GKR Hemas dalam hal pemberdayaan perempuan dilakukannya terhadap semua lapisan mulai dari penjual jamu gendong, buruh tani, para isteri PNS sampai politikus. Penggalian dan pengembangan potensi para perempuan ini dilakukan GKR Hemas melalui organisasi yang dipimpinnya seperti TP PKK, Dharma Wanita atau BKKKS. Dia selalu mendorong pemberdayaan perempuan itu dalam setiap kesempatan. Bahkan, misalnya, dia pernah meminta para isteri agar bisa menyupir mobil atau motor, hal ini sepele, tapi dari aspek pemberdayaan apa yang dia usulkan itu bisa membantu keluarga.

Sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional  (Dekranas) DIY sejak 1999, GKR Hemas membantu proses pembinaan usaha kecil menengah khususnya di sektor kerajinan. Dia berdayakan potensi sektor kerajinan dan seni dengan tak jemu memotivasi, memfasilitasi, dan membuka wawasan para perajin. Oleh ketua  Dekranas Pusat, karena prestasi yang telah diraih, kepada Dekranasda DIY pernah diberikan predikat sebagai dekranasda paling maju.

Pemikiran beliau yang cerdas dan berorientasi ke depan membuat Dekranasda Prov. DIY makin dikenal masyarakat baik di kawasan regional, nasional maupun internasional. Jejaring Dekranas makin luas, hampir di seluruh International Trade Promotion Centre (ITPC) di seluruh KBRI di negara sahabat telah mengenal dan menjalin network dengan Dekranasda Prov. DIY. Hal ini terbukti seringnya Dekranasda Prov. DIY mendapat kunjungan dari Dekranasda-Dekranasda di provinsi lain dan juga perwakilan dari beberapa negara sahabat.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh Dekranasda Prov. DIY di bawah pimpinan GKR Hemas adalah menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai institusi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya adalah telah terjalinnya hubungan dengan lembaga Pemerintah Jepang (JETRO) yang menghasilkan sebuah program yang menjadi ikon dunia, yaitu program One Village One Product (OVOP). Dalam program OVOP yang dilaksanakan atas kerjasama JETRO-DEKRANASDA-PEMDA DIY telah berhasil melatih 10 perajin Yogja menjadi perajin berkelas dunia, karena para perajin ini selama setahun langsung diberikan pelatihan dan supervisi oleh ahli desain dari Jepang. Dan setelah mereka berhasil membuat sebuah produk yang masuk kategori pasar dunia, mereka kemudian diikusertakan dalam pameran akbar berskala internasional ”Interior Life Style” di Tokyo, Jepang. Dalam hal ini Dekranasda Prov. DIY dapat menjalankan fungsinya sebagai lembaga pembina tanpa mengeluarkan anggaran.

Salah satu bentuk konsistensinya mengembangkan organisasi nir-laba ini, GKR Hemas selalu mempromosikan produk kerajinan yang dihasilkan di Yogyakarta dalam banyak kesempatan, atau kepada setiap tamu Keraton yang berasal dari mancanegara. Dia juga kerap memfasilitasi perajin untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang perhelatan pameran baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, melalui visinya, dia merangkul perusahaan IT kelas dunia untuk berpartisipasi dalam mengenalkan dunia IT di kalangan perajin. Sehingga dengan demikian perajin Jogja telah siap berselancar di dunia maya melanglang jagad. Sekarang IT telah akrab dengan mereka dan perajin Jogja tidak canggung lagi bernegosiasi dengan buyers asing yang memanfaatkan IT-system dalam melakukan transaksinya.

Banyak hal yang dapat diungkap lagi sebagai wujud dan kinerja dari berbagai jabatan yang disandang GKR Hemas. Sebagai Ketua Yayasan Kanker, dia sebagai pendiri dan berinisiatif mendirikan ”Rumah Singgah” untuk penderita maupun keluarga penderita yang sedang menjaga penderita, yang juga bisa menjadi gedung serba guna untuk para lansia.  Sarana dan prasarana yang juga pernah didukungnya bagi anak-anak adalah mengadakan saluran tilpon 128 yang merupakan ”Sahabat Anak”, anak-anak yang berkomunikasi di nomor ini dapat berkonsultasi mendengar cerita atau dongeng.

share on:

Leave a Response