Hendri Saparini: Tetap Independent Untuk Kepentingan Masyarakat

image-satunegeriSatuNegeri.com – Menjadi Ekonom Ini Tak Pernah menjadi cita-cita perempuan berdarah Jawa ini. Namun nama Hendri Saparini kini lekat dengan ekonomi. Hendri banyak mengkritisi soal kebijakan ekonomi pemerintah sekarang yang banyak mengutamakan liberalisasi. Dia ingin agar pasangan presiden wakil presiden terpilih nanti tidak melanjutkan praktik ekonomi neoliberal. Selain itu soal gagasan ekonomi. Dia sempat diminta salah satu pasangan untuk menjadi tim sukses beberapa Capres pada tahun 2004, tapi dia menolak. Baginya memberi masukan tak harus masuk dalam tim sukses bahkan memperluas kesempatan untuk bisa berbicara dengan ketiga pasangan tanpa ada kecenderungan pada kubu tertentu.

“Karena kompetensi saya cuma itu, kalau yang lain saya enggak dipercaya ngomong,” katanya. Hendri kemudian bercerita bahwa masuk ke dalam bidang ekonomi dianggapnya sebagai terdampar. Pasalnya awal tahun 80 an, jurusan ini tidak popular. “ Orang kan saat itu hanya tahu dokter dan insinyur,” katanya lagi. Tapi keinginannya yang sudah bulat untuk memasuki salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa saat itu membuat Hendri tak sibuk berpikir soal popularitas jurusan. Tahun 1983 dia diterima di fakultas ekonomi jurusan Manajemen UGM.

Saat kuliah, Hendri juga menjadi penggerak teman-temannya mengajukan aspirasi kepada dekan saat itu. Dia merasa bahwa kenaikan SPP dari sembilan ribu rupiah menjadi empat puluh ribu rupiah per semester akan sangat membebani para orangtua.

Selain menyibukkan diri dalam perkumpulan mahasiswa dalam hal akademis, perempuan ini juga mulai asyik terjun ke dunia masyarakat sejak kuliah. Hendri ikut dalam kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang pendidikan. Saat akhir pekan dan libur, dia ikut ke desa-desa mengajari anak-anak membaca dan menulis. Selain itu, Hendri zaman dulu dikenal tomboy, tak suka berdandan dan senang melakukan kegiatan menantang. Hampir setiap minggu dia ikut mendaki gunung yang diadakan kelompok pencinta alam sekolahnya . “ Setiap malam minggu saya ke Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan lain-lain jadi sudah sejak zaman kuliah main sama embah Marijan sudah sejak SMA,” tambahnya.

Sebagai ekonom, Hendri memang kerap berseberangan dengan arus utama. Pada tahun 90-an, timnya tak segan-segan mengeluarkan hasil penelitian yang tak sejalan dengan kebijakan ekonomi saat itu. Tapi tak pernah menyurutkan langkahnya sekalipun kata Hendri intimidasi pasti ada. “ Pastinya kita akan enggak disukai oleh beberapa pihak tapi yah kalau untuk kepentingan masyarakat dan nasional, itu yang paling utama,” kata dia.

Tahun 1994, bersama mantan menteri keuangan Rizal Ramli dan beberapa temannya, Hendri mendirikan lembaga riset dan konsultan ekonomi, Econit Advisory Group. Hendri bercerita soal EPPR, (Econit Public Policy Review) yang sangat terkenal ketika era Soeharto. Mereka mengkritisi soal ekonomi contohnya masalah pupuk tablet yang dari segi harga tinggi padahal manfaatnya tak berbeda dengan pupuk tabor. Kebijakan ini lantas merugikan para petani yang seharusnya mendapatkan pupuk murah.

Awal karirnya, Hendri bekerja di bidang perencanaan produk, kemudian di sebuah lembaga penelitian CPIS yang saat itu didirikan atas kerja sama Departemen Keuangan dan Harvard Institute. Namun jika hasil penelitian hanya disimpan di dalam lemari dan tak segera diimplementasikan, menurut Hendri tak ada artinya.

Sejak tahun 1994 dia bergabung dengan lembaga riset ekonominya sekarang menurut Hendri independen, termasuk dalam pengadaan dana untuk penelitiannya. Saat berkarir di sana pulalah, perempuan ini bisa menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 di Jepang.

Kini Hendri Saparini berkantor di ECONIT Advisory Group yang beralamat di Jalan Tebet Barat Dalam IV No. 5-7 Jakarta Selatan 12810. Bidang keahliannya adalah Makro Ekonomi, Industri dan Fiskal. Beberapa pekerjaan yang sekarang sedang dijalaninya antara lain: Managing Director, ECONIT Advisory Group; Tim Indonesia Bangkit; Konsultan Ekonomi di beberapa lembaga keuangan, Bank Indonesia serta lembaga internasional, Dosen Ekonomi Program Magister Manajemen UGM, MM-Fakultas Studi Pembangunan ITB, Program Doktor – Fakultas Ekonomi UMS.

Sebelumnya Dia juga pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri pada Menteri Koperasi dan UKM/Kepala Badan Pengembangan UKM R.I, 2001-2002. Pendidikan yang beliau tempuh antara lain : S1 di Fakultas Ekonomi – Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta; S2 di International Development Policy – University of Tsukuba – Japan dan meraih gelar Doktor dari International Political Economy – University of Tsukuba – Japan. Disamping menekuni profesinya sebagai pakar Ekonomi, Bu Hendri juga aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan dakwah Islam.

share on:

Leave a Response