Kebijakan Ekspor Minerba, Indonesia Siap Negosiasi

Satunegeri.com – Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan konsultasi dengan Uni Eropa (UE) di World Trade Organization (WTO) di Jenewa, Swiss.

Pertemuan ini dilakukan setelah pemerintah Indonesia menyetujui permintaan konsultasi dari UE pada 29 November 2019 dalam kerangka Dispute and Settlement (DSB) WTO terkait kebijakan mineral dan batubara Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut konsultasi merupakan forum bagi anggota WTO untuk saling mengklarifikasi berbagai kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip keterbukaan sebagaimana diatur dalam General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994 dan berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kinerja perdagangan dunia pada umumnya dan kepada UE secara khusus.

“Melalui proses konsultasi ini, kami berharap UE akan memiliki pemahaman yang lebih jelas terkait latar belakang pemberlakukan kebijakan ekspor mineral dan batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia,” jelas Jerry.

Menurut Jerry, pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kebijakan mineral dan batubara sebagai usaha Indonesia untuk mengoptimalkan produksi mineral nasional yang bertanggung jawab serta berkelanjutan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada pertumbuhan ekonomi dan masyarakat Indonesia.

Di dalam proses konsultasi ini, perwakilan UE menitikberatkan perhatiannya pada beberapa aturan perdagangan mineral dan batubara Indonesia, diantaranya adalah Peraturan Menteri ESDM nomor 11 tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Jerry menambahkan, kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia bukan bertujuan menghambat kegiatan ekonomi, namun diharapkan dapat memberikan kejelasan kontribusi pelaku usaha pertambangan Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Pemerintah Indonesia mengharapkan hasil positif dari proses konsultasi ini, guna memberikan pesan kepada Uni Eropa dan anggota WTO lainnya bahwa pada prinsipnya Indonesia tidak pernah memiliki tujuan untuk melakukan hambatan perdagangan internasional.

“Melalui klarifikasi di dalam proses konsultasi ini, diharapkan agar anggota WTO termasuk Uni Eropa dapat memahami dasar kebijakan Indonesia sehingga kebijakan tersebut dapat dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia,” ucap Jerry.

Delegasi Republik Indonesia (Delri) terdiri dari perwakilan Kementerian dan Lembaga pembina produksi dan perdagangan sektor mineral dan batubara, antara lain Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Duta Besar (Dubes) Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, Dubes WTO, Kemendag, Kementerian ESDM, dan Atase Perdagangan Jenewa.

Seperti diketahui pada tahun 2019, pada catatan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kementerian ESDM bahwa nilai ekspor bijih nikel mencapai 30 juta ton. Hasil ekspor tersebut tidak melebihi penetapan kuota ekspor bijih nikel.

Meski begitu, hasil ekspor bijih nikel tersebut naik 36,36 persen dari eksporsebelumnya yaitu, 22 juta ton di tahun 2018. Ekspor bijih nikel tersebut terdiri dari nikel matte sebanyak 64 ribu ton, turun dari 75 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Selanjutnya, ekspor feronikel sebesar 1 juta ton, atau meningkat 74 persen dari ekspor tahun lalu sebesar 573 ribu ton. Kemudian, ekspor nikelpig iron(NPI) sebesar 130 ribu ton, atau turun dari ekspor pada 2018 yang mencapai 323 ribu ton.

Sementara dari sisi produksi, produksi bijih nikel pada 2019 sebesar 52,8 juta ton atau melonjak lebih dari dua kali lipat dari periode sebelumnya, 22,1 juta ton.

Selanjutnya, produksi nikel matte sebesar 65 ribu ton atau turun 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 75 ribu ton. Lalu, produksi feronikel sebesar 1,1 juta ton, jauh di atas produksi tahun sebelumnya, 573 ribu ton.

Sebagai informasi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. mengumumkan bahwa larangan ekspor bijih mineral akan kembali seperti aturan awal, yaitu berlaku mulai 1 Januari 2020.

Meski begitu, Kementerian ESDM pun optimis menaikkan target produksi batu bara di 2020 menjadi 550 juta ton. Memang sebenarnya hanya menargetkan produksi di angka 489 juta ton di tahun 2019. Namun, realisasinya mencapai 610 juta ton. Angka produksi tertinggi sejak 2014.

share on: