Realisasi PNBP Minerba Capai Rp3,23 Triliun

Satunegeri.com – Hingga awal Februari 2020, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor pertambangan mineral dan batu bara mencapai Rp3,23 triliun.

Penerimaan negara masih dibayangi oleh ketidakpastian pergerakan harga batu bara global yang terjadi sejak 2019 kemarin. Pasalnya sektor batu bara mayoritas berkontribusi pada penerimaan negara sektor pertambangan.

Direktur Penerimaan Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Jonson Pakpahan mengatakan realisasi PNBP hingga awal Februari sekitar 7,29% dari target yang ditetapkan sebesar Rp44,32 triliun. “Realisasi PNBP sampai 5 Februari kemarin mencapai Rp3,23 triliun,” kata Jonson di Jakarta kepada media, Jumat (7/2/2020).

Jonson menuturkan target PNBP tahun ini lebih tinggi dibandingkan 2019 sebesar Rp43,27 triliun. Adapun penetapan target itu berdasarkan asumsi produksi batu bara mencapai 530 juta ton, nilai kurs Rp14.400 dan harga batu bara acuan (HBA) US$ 90/ton.

Sebenarnya asumsi yang ditetapkan itu berbeda dengan kondisi saat ini. Produksi batu bara ditetapkan 550 juta ton, kemudian nilai tukar Rupiah sudah menguat dikisaran Rp13.000-an. Sementara harga batu bara anjlok di level US$60-an/ton.

Namun Jonson optimis target PNBP bakal tercapai tahun ini. Hal itu bercermin pada realisasi 2019 yang melampaui target yakni sebesar Rp44,19 triliun. Padahal asumsi produksi batu bara, kurs dan HBA pun meleset dari kondisi yang terjadi di sepanjang 2019 kemarin.

Dia mengungkapkan upaya yang dilakukan Kementerian ESDM dalam melampaui target di tahun lalu dengan menerapkan ePNBP. Aplikasi PNBP itu terintegrasi dengan layanan Sistem Informasi PNBP Online (Simfoni) Kementerian Keuangan. Dengan sistem ePNBP maka tak akan ada lagi tunggakan kewajiban perusahaan. Tanpa menyelesaikan kewajiban maka kegiatan pengapalan bakal tertunda.

“Kita hanya verifikasi saja. Semua perusahaan jika akan mengapalkan harus bayar dimuka terlebih dahulu dan pembayaran yang diterima syahbandar harus yang pembayaran dari ePNBP,” ujarnya.

Pencapaian target tahun ini diperkirakan lebih berat daripada 2019 kemarin. Di sepanjang tahun lalu harga batu bara melemah seiring dengan kebijakan Pemerintah Tiongkok yang mengurangi impor. Sementara di awal tahun pergerakan harga dibayangi oleh dampak penyebaran virus Korona.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan kondisi pasar global kian tak menentu akibat pengaruh virus Korona. Dia belum berani memperkirakan harga batu bara terus menguat dalam beberapa bulan ke depan. “Masih sulit diprediksi, apalagi dengan perkembangan virus Korona ini,” ujarnya.

Hendra pun belum bisa memastikan seberapa besar pengaruh virus Korona terhadap tingkat permintaan Tiongkok. Bila perekonomian Tiogkok terdampak penyebaran virus maka berkolerasi dengan kebutuhan energi. Padahal Tiongkok merupakan penyerap terbesar kebutuhan batu bara global.

“Jika berlarut tentu akan mempengaruhi ekonomi domestik Tiongkok yang juga bisa berpengaruh terhadap permintaan energi mereka,” pungkasnya.

share on: