Streetlight Effect Covid-19

Oleh : Ahmad Fadhli
(Mahasiswa Doktor Ekonomi Sumberdaya IPB)

Satunegeri.com – Alkisah seorang pemuda mabuk, kehilangan kunci mobilnya di taman yang gelap. Namun, ia malah mencari kunci mobilnya yang hilang di pinggir jalan. Tindakannya sangat absurd, mungkin karena mabuk sehingga melemahkan akal sehatnya. Kunci mobilnya jatuh di taman, tapi malah mencarinya di pinggir jalan. Alasannya yaitu karena di pinggir jalan ada sumber cahaya yang cukup terang. Itulah sepenggal anekdot orang mabuk yang kemudian oleh Abraham Kaplan (1964) disebut dengan “Streetlight Effect”.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini, membuat negara-negara maju maupun berkembang mengalami guncangan ekonomi. Pemerintah Indonesia pun tidak berpangku tangan dan menunjukkan keseriusannya. Setiap hari pemerintah selalu memperbaharui (update) data akumulasi pasien tertular, sembuh dan mati yang disebabkan oleh Covid-19. Pemerintah mungkin sangat bangga dengan “Statistical Life” nya. Sesungguhnya yang jauh lebih penting adalah “Identified Life” yaitu bagaimana cara penanganan Covid-19 secara cepat dan tepat, sehingga tidak mudah mengambil nyawa orang tua, istri dan anak-anak kita. Thomas Schelling (1968) dalam tulisannya “valuing ways to reduce the risk of death” menjelaskan bahwa, kebijakan publik yang hanya mengandalkan “Statistical Life” dan mengesampingkan “Identified Life”, akan menjadi tidak efektif.

Namun, ada hal yang lebih memilukan lagi yaitu pemerintah meluncurkan program kartu prakerja. Masyarakat usia kerja, dipersilahkan untuk mendaftarkan diri agar mendapat bantuan uang tunai untuk keperluan biaya pelatihan (soft skill) dan uang saku (incentive). Di tengah pandemi Covid-19 yang sangat mematikan ini, masyarakat disuguhkan dengan orkestra kebijakan yang sama sekali tidak menyelesaikan persoalan publik. Padahal negara-negara di dunia tengah melakukan “lockdown” untuk memperpendek umur pandemi Covid-19.

Salah satu strategi ampuh yang dilakukan oleh banyak negara untuk mengatasi krisis saat ini yaitu dengan “Hedgehog Strategies” atau yang dikenal dengan strategi landak. Kita tahu bahwa landak ketika memasuki musim dingin melakukan hibernasi. Sumber daya (resources) makanan selama hibernasi hanya digunakan separuh, karena separuhnya lagi akan digunakan pada saat musim dingin selesai. Pada situasi krisis saat ini, sudah seharusnya pemerintah melakukan “hibernasi ekonomi” dengan menggunakan resources seminimal mungkin. Karena pada saat pandemi Covid-19 berakhir, kita membutuhkan resources yang cukup besar untuk pemulihan ekonomi.
Melihat perilaku pemerintah saat ini yakni menghamburkan anggaran ke sektor yang tidak tepat sasaran (Kartu Prakerja) dan bukan merupakan solusi prioritas (menekan angka kematian akibat Covid-19), penulis menilai pemerintah Indonesia justru seperti menggali kuburan yang lebih besar setelah pandemi Covid-19 usai.

Padahal, krisis saat ini berbeda dengan depresi ekonomi, dimana daya beli masyarakat berkurang (demand side) atau faktor produksi turun karena input (supply side). Konsumen masih memiliki uang, sedangkan produsen masih memiliki barang dan jasa. Hanya saja saat ini, semua orang dibatasi pergerakannya. Semoga kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 tidak sesat dan menyesatkan, bagaikan orang mabuk yang mengalami “Streetlight Effect”. Seperti kata pepatah, “we have to find where we got lost”.

Ahmad Fadhli
(Mahasiswa Doktor Ekonomi Sumberdaya IPB)

share on: