Upaya Mengontrol Emisi GRK

Oleh. Rahma Widhiasari (Indonesian Resources Studies /IRESS)

Satunegeri.com – Emisi gas rumah kaca (GRK) secara global disumbang dari beragam sektor. Berdasarkan data Climate Watch, energi merupakan kontributor terbesar emisi GRK. Sektor energi menghasilkan 36,44 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e) atau 71,5 persen dari total emisi pada 2017.

Besarnya kontribusi sektor energi terhadap emisi GRK terjadi di banyak negara.

Di Uni Eropa, emisi GRK dari sektor energi disokong kegiatan industri, rumah tangga, dan transportasi. Kondisi serupa, terjadi di Amerika Serikat (AS) yang banyak disumbang pembakaran bahan bakar fosil, seperti dikutip dari Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).
Di samping itu, sektor pertanian serta perubahan tata guna lahan dan hutan (land-use change and forestry /LULUCF) turut berkontribusi pada emisi GRK. Kedua sektor ini masing-masing menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 5,88 Gt CO2e dan 3,22 Gt CO2e.

Di Indonesia, kehutanan dinilai sektor terbesar penyumbang emisi GRK. Sumbangan terbesar terjadi saat kebakaran hutan 1997-1998.

Namun, sejak 2000, kebakaran hutan hampir terjadi setiap tahun, di lokasi berbeda-beda di beberapa wilayah Indonesia.

Kondisi ini memberikan dampak lanjutan, kerusakan hutan yang mereduksi produksi oksigen. Pemerintah berkomitmen menurunkan emisi GRK nasional sebesar 26 persen secara sukarela dan 41 persen dengan dukungan mitra internasional hingga 2020.

Penurunan emisi karbon 26 persen, diharapkan disumbang dari sektor kehutanan. Sementara itu, kontribusi sektor energi di Indonesia pun cukup besar.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan sektor energi berkontribusi 38 persen dalam menurunkan emisi GRK. Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, pemerintah menetapkan target penurunan emisi GRK pada 2030 sebesar 834 juta ton karbondioksida.

Mengontrol emisi GRK

Indonesia perlu berupaya memerangi dampak pemanasan global, yang disebabkan peningkatan emisi GRK. Ini lantaran, Indonesia menjadi negara terpadat keempat yang menghasilkan emisi GRK terbesar di dunia.

Upaya memerangi perubahan iklim, yang melibatkan negara-negara seluruh dunia diprakarsai melalui penandatanganan Perjanjian Paris. Indonesia berkomitmen mengurangi emisi GRK hingga 29 persen pada 2030.

Pemerintah melakukan beberapa upaya untuk menurunkan emisi GRK. Di sektor kehutanan, dilakukan dengan merehabilitasi hutan rusak. Pemerintah memiliki target rehabilitasi 1,6 juta hektare pada 2020.

Upaya penurunan emisi GRK di setor kehutanan, diharapkan tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Apalagi, pertambangan di wilayah kehutanan memberikan sumbangsih besar ke pendapatan negara.

Sedangkan penurunan emisi GRK di sekor energi melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Pada 2020, pemanfaatan EBT berkontribusi menurunkan 34 juta ton emisi. Efisiensi energi menurunkan 13 juta ton yang menjadi kontributor utama aksi mitigasi.

Pemerintah melakukan beberapa upaya pemanfaatan EBT, sebagai upaya mitigasi yakni pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan konservasi energi, penerapan teknologi energi bersih di pembangkit listrik, fuel switching, dan reklamasi pascatambang.

Pada 2020, potensi EBT Indonesia sekitar 417,8 gigawatt (GW). Namun, sampai saat ini pemanfaatannya baru 10,4 GW atau sekitar 2,5 persen dari total potensi.

Adapun, potensi EBT terbesar bersumber dari tenaga surya sekitar 208 GW, disusul tenaga air 75 GW, bayu 61 GW, bioenergi 33 GW, panas bumi 24 GW, dan samudra 18 GW.

Pemanfaatan EBT terbesar bukan dari tenaga surya, melainkan tenaga air sekitar 6.100 MW, disusul panas bumi sekitar 2.100 MW, bioenergi sebesar 1.900 MW, bayu 154 MW.

Pemerintah menetapkan target porsi EBT dalam bauran energi nasional 2025 sebesar 23 persen. Namun, realisasi hingga 2020 baru 11 persen. Ke depan, target EBT akan semakin ditingkatkan menjadi 31 persen pada 2050.

Pada 2020, sektor energi berhasil menurunkan emisi karbondioksida sebesar 64,4 juta ton atau 111 persen dari target 58 juta ton.

Kementerian ESDM memproyeksikan sektor energi berkontribusi 38 persen dalam menurunkan emisi GRK. Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, pemerintah menetapkan target penurunan emisi GRK pada 2030 sebesar 834 juta ton Co2.

Kementrian ESDM menargetkan, sektor energi diharapkan dapat menurunkan emisi sebesar 314 juta ton Co2 dengan kemampuan sendiri, dan 398 juta ton Co2 dengan bantuan internasional.

Kontribusi sektor energi dalam menurunkan emisi sebesar 38 persen dari target penurunan nasional. Program pemanfaatan EBT berkontribusi menurunkan 34 juta ton, dan efisiensi energi berkontribusi menurunkan 13 juta ton yang menjadi kontributor utama aksi mitigasi.

Kemudian, untuk mengurangi emisi GRK dari sektor perubahan lahan, pemerintah berupaya menerapkan konsep green building di perkotaan.

Upaya tersebut dilakukan dengan mencari solusi untuk mengurangi emisi GRK di kota-kota di Indonesia.

Ketika mencari solusi untuk mengurangi emisi GRK di Indonesia, maka dimulai dengan mengurangi emisi GRK di kota-kota di Indonesia. Untuk menghindari permasalahan itu dibutuhkan penyadaran bersama semua elemen baik pemerintah, masyarakat, pelaku industri dan kampus.

Bisa dengan mengubah kebiasaan selalu menggunakan kendaraan bermotor, mengurangi sampah, menanam pohon, merancang perumahan secara vertical dengan efisien energi listrik, memanfaatkan ruang bangunan untuk penghijauan, dan semua pola ecogreen.

Dalam pola pembangunan ecogreen, Kementrian PUPR berupaya menemukan solusi tentang cara mendesain, merencanakan dan mengimplementasikan solusi rendah karbon pada skala bangunan perkotaan.

share on: